Duh! Tes Swab Hidung Picu Kebocoran Cairan Otak pada Pasien AS

-

Washington DC

Hasil kajian medis di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa tes virus Corona (COVID-19) dengan melakukan swab pada hidung bisa menyebabkan kebocoran cairan otak pada pasien. Hal ini terjadi pada seorang pasien yang mengalami kondisi langka.

Seperti dilansir AFP, Jumat (2/10/2020), para dokter di AS melaporkan dalam jurnal medis yang dirilis pada Kamis (1/10) waktu setempat bahwa tes swab hidung memecahkan lapisan di dasar tengkorak seorang pasien berusia 40 tahun, yang menyebabkan cairan serebrospinal — cairan penting dalam otak — bocor dari hidungnya dan menempatkan sang pasien dalam risiko infeksi otak.

Namun disebutkan juga dalam jurnal itu bahwa pasien ini memiliki kondisi langka yang tidak terdiagnosis dan tes swab terhadapnya mungkin dilakukan secara tidak tepat. Situasi semacam itu kecil kemungkinan terjadi sehingga menurut jurnal medis itu, risiko dari tes swab hidung tetap sangat rendah.

Peneliti senior dari Operasi Kepala dan Leher pada JAMA Otolaryngology, Jarrett Walsh, menekankan agar profesional medis berhati-hati untuk mengikuti protokol tes Corona secara saksama dan cermat.

Lebih lanjut, Walsh menyebut bahwa orang-orang yang pernah menjalani operasi sinus atau dasar tengkorak yang ekstensif harus mempertimbangkan untuk meminta tes oral jika tersedia.

“Ini menggarisbawahi perlunya pelatihan yang memadai bagi mereka yang melakukan tes dan perlunya kewaspadaan setelah tes dilakukan,” sebut spesialis THT (telinga, hidung dan tenggorokan), Dennis Kraus, dari Rumah Sakit Lenox Hill di New York.

Walsh yang berpraktik di Rumah Sakit Universitas Iowa, menyatakan bahwa pasien wanita itu menjalani tes swab hidung sebelum menjalani operasi hernia dan kemudian menyadari ada cairan keluar dari salah satu lubang hidungnya. Dia kemudian mengalami sakit kepala, muntah, leher kaku dan menghindari cahaya, sebelum akhirnya dipindahkan ke perawatan Walsh.

“Dia sebelumnya menjadi menjalani swab untuk prosedur lainnya, di sisi yang sama, tidak ada masalah sama sekali. Dia merasa mungkin swab kedua tidak menggunakan teknik terbaik dan masuknya agak sedikit tinggi,” terang Walsh.

Share this article

Recent posts

PPKM Level 4 Berlaku Besok, Kapasitas Angkutan Umum-Taksi Online 50%

Penerapan PPKM level 4 berlaku mulai besok hingga 2 Agustus 2021. Angkutan umum hingga taksi online boleh beroperasi selama PPKM level 4, dengan kapasitas 50 persen. "Transportasi umum, kendaraan umum, angkutan massal, taksi konvensional dan online, dan kendaraan sewa/rental diberlakukan pengaturan kapasitas maksimum 50 persen dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat," kata Menko Kemaritiman dan…

Misteri Perusak Patung Ikon di Sulbar Dirusak Bikin Gempar

Video viral beredar menunjukkan seorang pria bermartil menghancurkan patung di salah satu sudut Polewali Mandar. Misteri masih belum terungkap, kenapa pria itu menghancurkan patung? Dalam salah satu potongan video pendek yang beredar di media sosial, tampak pria bermartil memukul-mukul Patung Tani yang tinggi menjulang. Peristiwa ini ternyata mengambil tempat di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar,…

Dua Lembaga BPJS Akan Integrasikan Data Layanan Jaminan Sosial

BPJS Kesehatan dan BPJAMSOSTEK akan mengintegrasikan data layanan program jaminan sosial dan jaminan kehilangan pekerjaan (JKP) secara spesifik. Dengan adanya integrasi data tersebut diharapkan akan meningkatkan mutu layanan yang diterima peserta.

Duka Bocah Vino Jadi Yatim Piatu Gegara Corona

Sungguh malang nasib seorang bocah di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, bernama Alviano Dava Raharjo alias Vino. Bocah berusia 10 tahun itu harus kehilangan kedua orang tuanya gara-gara Corona (COVID-19).

Alasan Pemerintah Ganti Istilah PPKM Darurat Jadi Per Level

Pemerintah menjelaskan alasan mengganti istilah PPKM Darurat menjadi PPKM dengan level tertentu. Pergantian itu disebut mengikuti arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). "Terkait dengan level memang kita mengikuti apa yang diarahkan oleh WHO dan kita menggunakan dua level yaitu level transmisi dan kapasitas respons," kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/7/2021).

Popular categories

Recent comments